LAMPUNG TIMUR, LAMPUNG17.COM (SMSI) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, telah dinyatakan padam. Meski demikian, upaya pemantauan dan pemeriksaan di lokasi masih diperlukan untuk memastikan tidak ada bara api yang tertinggal di bawah permukaan tanah.
Ancaman tersebut menjadi perhatian karena kebakaran pada lahan gambut memiliki karakteristik berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa. Api dapat bertahan di dalam lapisan gambut meskipun kobaran di permukaan sudah tidak terlihat.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) sekaligus Dosen Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) Salemba, Dr. Daryono, menjelaskan bahwa hujan tidak selalu mampu memadamkan bara yang berada jauh di dalam lapisan gambut.
Menurutnya, pembakaran di bawah permukaan dapat berlangsung tanpa nyala api sehingga sulit terdeteksi hanya melalui pengamatan dari atas.
“Kebakaran gambut memiliki karakteristik smouldering combustion, yaitu pembakaran membara tanpa nyala api yang dapat berlangsung lama di bawah permukaan,” ujar Daryono kepada Kompas.com, Jumat (30/10/2026).
Ia menegaskan, pemadaman tetap harus dilakukan apabila ditemukan bara atau tanda-tanda kebakaran yang masih berlangsung di bawah permukaan tanah.
“Ya, pemadaman harus tetap dilakukan apabila masih ditemukan bara atau indikasi kebakaran bawah permukaan,” kata Daryono.
Daryono mengingatkan, hujan yang mengguyur kawasan terdampak memang dapat membantu memadamkan api di permukaan. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis memastikan bara di dalam gambut telah padam sepenuhnya.
“Jadi, hujan turun bukan berarti api sudah padam,” katanya.
Karena itu, pemeriksaan langsung di area bekas kebakaran menjadi bagian penting dalam memastikan kondisi benar-benar aman. Petugas perlu mendeteksi kemungkinan adanya bara aktif sebelum menghentikan upaya pemadaman.
“Pemadaman baru dapat dihentikan setelah dipastikan tidak ada lagi bara aktif, termasuk di bawah permukaan,” ujarnya.
Petugas Masih Lakukan Penyisiran dan Pemantauan
Sebelumnya, Kepala BPBD Lampung, Aswarodi, menyampaikan bahwa titik-titik kebakaran yang dipantau di kawasan TNWK sudah tidak menunjukkan asap maupun titik api pada Rabu (28/10/2026) hingga siang.
Pemantauan dilakukan oleh Satgas Darat dengan bantuan pesawat tanpa awak atau drone. Kondisi tersebut juga didukung hujan yang mengguyur kawasan operasi sejak dini hari.
Hujan tercatat turun pada pukul 01.20 hingga 02.45 WIB di BOD 1, BOD 2, dan BOD 3. Hujan kemudian kembali berlanjut sekitar pukul 03.20 WIB hingga pagi dengan intensitas gerimis.
Humas Balai TNWK, Riri Fitriandi, turut membenarkan bahwa kebakaran telah padam. Meski demikian, petugas tetap melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi kemungkinan adanya api maupun bara yang masih tersisa.
Penyisiran di lokasi kebakaran dilanjutkan dengan pembasahan atau mopping up. Pemantauan dari udara menggunakan drone juga dilakukan secara berkala guna membantu mendeteksi titik panas yang mungkin belum teridentifikasi.
Selain itu, tim TNWK dijadwalkan melanjutkan patroli deteksi dini selama beberapa hari setelah kebakaran dinyatakan padam.
Hingga Jumat (30/10/2026), belum tersedia data valid mengenai total luas lahan yang terbakar dalam rangkaian karhutla tersebut.
Meski tidak lagi ditemukan kobaran api di permukaan, pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan tidak ada bara yang bertahan di dalam lapisan gambut. Langkah ini penting agar kebakaran tidak kembali muncul setelah kondisi permukaan terlihat aman. (Red)













