LAMPUNG TENGAH, LAMPUNG17.COM (SMSI) – Kerusuhan yang terjadi di kawasan perkebunan PT Bumi Sentosa Abadi (BSA), Kecamatan Anak Tuha, Lampung Tengah, Rabu (12/8/2026), menyebabkan puluhan aset perusahaan mengalami kerusakan dan terbakar.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah konflik lahan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun antara masyarakat dan PT BSA. Berdasarkan data kepolisian, kerusakan tidak hanya terjadi pada fasilitas perkantoran, tetapi juga sejumlah bangunan, kendaraan, hingga fasilitas penyimpanan bahan bakar.
Kapolres Lampung Tengah AKBP Charles Pandapotan Tampubolon mengatakan, terdapat 26 unit mes karyawan PT BSA yang terbakar dalam kejadian tersebut.
Selain mes karyawan, sejumlah fasilitas perusahaan yang terdampak meliputi satu kantor, satu pos satpam, gudang genset, gudang pupuk, gudang BBM, gudang bengkel, gudang logistik, serta dua bangunan laboratorium.
Kerusakan juga terjadi pada sejumlah kendaraan dan alat berat. Polisi mencatat tiga unit traktor, tiga kendaraan tangki air, tiga truk, satu Ford Ranger double cabin, satu Daihatsu Taft, serta dua sepeda motor ikut terbakar.
Salah satu sepeda motor yang terbakar diketahui merupakan kendaraan milik anggota Brimob yang sedang menjalankan tugas pengamanan di lokasi.
Tak hanya bangunan dan kendaraan, fasilitas penyimpanan bahan bakar perusahaan juga terdampak. Sekitar 9.400 liter solar industri yang didatangkan dari Way Lunik dilaporkan ikut terbakar. Selain itu, sebanyak 418 liter oli juga terdampak dalam peristiwa tersebut.
Meski kerusakan cukup luas, polisi memastikan tidak terdapat korban jiwa maupun korban luka dalam kerusuhan tersebut.
“Syukurnya, puji Tuhan, Alhamdulillah, tidak ada korban sama sekali, tidak ada baik korban luka ringan maupun luka berat, apalagi korban jiwa,” ujar Charles, Kamis (13/8/2026).
Konflik Lahan Bertahun-tahun
Charles menjelaskan, kerusuhan tersebut tidak terlepas dari persoalan lahan yang telah berlangsung cukup lama antara masyarakat dan pihak perusahaan.
Situasi disebut kembali memanas setelah masyarakat mengetahui adanya aktivitas pemanenan sawit di kawasan yang menjadi objek sengketa. Masyarakat menilai aktivitas tersebut dilakukan tanpa persetujuan mereka.
Di sisi lain, pihak perusahaan memiliki legalitas dalam pengelolaan lahan. Sementara masyarakat mengklaim kawasan tersebut merupakan tanah adat yang belum pernah dijual maupun dikerjasamakan dengan perusahaan.
“Pemicunya sebenarnya permasalahan ini kan sudah lama, sudah bertahun-tahun, dan gejolak kemarin kenapa tiba-tiba meningkat secara spontanitas. Masyarakat menilai perusahaan melakukan panen sawit tanpa seizin masyarakat,” jelas Charles.
Massa kemudian masuk ke kawasan perkantoran PT BSA. Kondisi tersebut berkembang menjadi kericuhan hingga sejumlah fasilitas perusahaan mengalami perusakan dan pembakaran.
Menurut Charles, berdasarkan waktu dan rangkaian kejadian, aksi tersebut berlangsung secara spontan.
“Melihat intensitas waktunya itu spontanitas,” katanya.
545 Personel Gabungan Disiagakan
Pasca-kerusuhan, aparat gabungan Polri dan TNI langsung memperkuat pengamanan di kawasan PT BSA. Sebanyak 545 personel dikerahkan untuk menjaga situasi sekaligus mengantisipasi kemungkinan terjadinya aksi susulan.
Personel tersebut terdiri dari 96 personel Dit Samapta Polda Lampung, 30 personel Dit Intelkam Polda Lampung, 60 personel Dit Reskrimum Polda Lampung, 150 personel Sat Brimob Polda Lampung, 127 personel Polres Lampung Tengah, 40 personel Sat Samapta Polres Lampung Timur, 22 personel Sat Samapta Polres Metro, serta 20 personel TNI.
Charles mengatakan kondisi di lokasi telah berhasil dikendalikan sejak Rabu sore. Hingga Kamis (13/8/2026), situasi di kawasan tersebut masih terpantau aman dan kondusif.
“Kemarin sore pasca kejadian, Bapak Kapolda turun langsung ke lapangan dan kita patut bersyukur Bapak Kapolda datang memimpin langsung pergerakan pasukan ke sana. Situasi berhasil dikendalikan oleh kepolisian dan situasi sampai saat ini sudah aman dan kondusif sejak dari kemarin sore,” ujarnya.
Polisi Dalami Perusakan dan Pembakaran
Meskipun kondisi telah kembali kondusif, kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pihak-pihak yang terlibat dalam perusakan dan pembakaran.
Petugas mengumpulkan sejumlah alat bukti serta melakukan pemeriksaan terhadap lokasi yang terdampak. Polisi juga masih melakukan olah tempat kejadian perkara di beberapa titik.
“Kami dari kepolisian dibantu dari Polda tentunya melakukan penyelidikan terhadap kejadian tersebut, mengumpulkan alat bukti, dan nanti hasil dari hasil penyelidikan tentu melalui gelar, apakah nanti ada ditemukan dua alat bukti untuk meningkat kepada tahap penyidikan,” kata Charles.
Masyarakat diminta tidak memasuki area yang telah dipasangi garis polisi. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga lokasi tetap steril dan memastikan proses pemeriksaan berjalan tanpa gangguan.
Charles juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum dipastikan kebenarannya.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak terprovokasi dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh situasi. Percayakan penanganan peristiwa ini kepada pihak kepolisian,” tegasnya.
Hingga Kamis (13/8/2026), personel gabungan Polri dan TNI masih disiagakan di sekitar kawasan PT BSA. Pengamanan dilakukan sembari proses penyelidikan terus berjalan untuk mengungkap rangkaian kerusuhan yang menyebabkan puluhan aset perusahaan rusak dan terbakar. (Red)













