Bandar LampungLampung17.com

Harga MinyaKita di Bandar Lampung Masih Stabil, Pedagang Berharap Industri CPO Dongkrak Ekonomi

×

Harga MinyaKita di Bandar Lampung Masih Stabil, Pedagang Berharap Industri CPO Dongkrak Ekonomi

Sebarkan artikel ini

BANDAR LAMPUNG, LAMPUNG17.COM (SMSI) – Harga minyak goreng merek MinyaKita di tingkat pedagang eceran di Kota Bandar Lampung masih terpantau stabil. Hingga akhir Juli 2026, stok minyak goreng bersubsidi tersebut juga masih tersedia dan belum mengalami kelangkaan.

Pantauan di Toko Humairoh, Gedong Meneng, Bandar Lampung, Senin (27/7/2026), aktivitas jual beli minyak goreng berlangsung normal. Salah seorang penjaga toko, Ardiansyah (25), mengatakan MinyaKita kemasan satu liter masih dijual seharga Rp16.000 per liter.

“Harga MinyaKita kemasan satu liter masih Rp16.000. Sampai sekarang belum ada kenaikan harga dan stoknya juga masih aman,” kata Ardiansyah.

Selain MinyaKita kemasan satu liter, toko tersebut juga menyediakan minyak goreng dalam kemasan gelas yang dijual sekitar Rp5.000 per kemasan. Menurut Ardiansyah, pasokan dari distributor hingga saat ini masih berjalan lancar sehingga belum berdampak terhadap harga di tingkat pengecer.

Ia menilai kondisi tersebut membuat masyarakat tidak mengalami kesulitan mendapatkan minyak goreng untuk kebutuhan sehari-hari. Permintaan dari konsumen juga masih relatif stabil tanpa adanya lonjakan yang signifikan.

Ardiansyah juga menanggapi rencana pemerintah yang akan membuka kembali moratorium pembangunan industri pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan Crude Palm Kernel Oil (CPKO) di Provinsi Lampung. Menurutnya, kebijakan tersebut diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah.

Ia berharap keberadaan industri pengolahan kelapa sawit di Lampung dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sawit sekaligus membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Selain itu, Ardiansyah berharap pengembangan industri CPO dan CPKO di Lampung dapat berdampak pada harga minyak goreng di tingkat pengecer sehingga menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat.

“Harapannya kalau industri pengolahan sawit berkembang di Lampung, ekonomi masyarakat ikut membaik dan harga minyak goreng bisa lebih stabil, bahkan kalau bisa lebih murah,” ujarnya.

Sebagai salah satu daerah yang memiliki potensi komoditas kelapa sawit, Lampung dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan industri hilir yang mampu meningkatkan daya saing sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat maupun pelaku usaha di daerah. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *