LAMPUNG, LAMPUNG17.COM (SMSI) –Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung terus mengintensifkan langkah pengurangan risiko bencana dengan menitikberatkan upaya pada fase prabencana. Pendekatan ini dilakukan seiring perubahan paradigma penanggulangan bencana yang kini lebih mengedepankan pencegahan dibandingkan penanganan saat kondisi darurat.
Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, menjelaskan bahwa penguatan strategi mitigasi menjadi kunci untuk meminimalkan dampak saat terjadi bencana. Menurutnya, semakin matang persiapan di tahap prabencana, maka respons saat tanggap darurat akan semakin cepat dan terarah.
“Penanggulangan bencana saat ini tidak lagi hanya berfokus pada fase darurat. Justru sebagian besar pekerjaan ada di tahap pengurangan risiko. Kalau mitigasi berjalan baik, dampaknya bisa ditekan sejak awal,” ujarnya di Bandar Lampung, Kamis. (19/02/2026)
Ia memaparkan, strategi tersebut diawali dengan penyusunan berbagai dokumen perencanaan, mulai dari kajian risiko bencana, rencana penanggulangan bencana, rencana penanganan kedaruratan, hingga rencana kontingensi. Dokumen tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah cepat dan tepat di lapangan.
Selain perencanaan, BPBD juga memperkuat pendekatan langsung ke masyarakat, khususnya di wilayah rawan bencana. Program desa tangguh bencana dan keluarga tangguh bencana terus digalakkan guna membangun kesiapsiagaan berbasis komunitas.
Tak hanya itu, BPBD turut menggandeng berbagai pihak seperti dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi nonpemerintah, hingga media massa untuk membangun kolaborasi dalam upaya mitigasi. Strategi komunikasi juga diperluas melalui media sosial dan sosialisasi tatap muka agar informasi kebencanaan dapat diterima masyarakat secara cepat dan akurat.

Dalam hal sistem peringatan dini, BPBD berkoordinasi erat dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Setiap informasi cuaca ekstrem maupun potensi bencana yang dirilis BMKG langsung diterima BPBD untuk segera ditindaklanjuti.
“Ketika BMKG mengeluarkan peringatan, pada saat yang sama kami juga menerima informasi tersebut. Karena itu masyarakat juga perlu aktif memantau informasi resmi sebelum beraktivitas,” jelasnya.
Sejak awal tahun 2026, tercatat puluhan kejadian angin kencang melanda sejumlah wilayah di Lampung. Bencana hidrometeorologi seperti ini dinilai masih dapat diminimalkan risikonya melalui langkah sederhana, seperti menghindari berteduh di bawah pohon rapuh atau menjauhi bangunan yang tidak kokoh saat cuaca ekstrem terjadi.
BPBD menegaskan bahwa mitigasi merupakan investasi keselamatan jangka panjang. Dengan kesiapsiagaan yang terus diperkuat, diharapkan dampak kerugian akibat bencana di Provinsi Lampung dapat ditekan semaksimal mungkin. (Red)













