LAMPUNG, LAMPUNG17.COM (SMSI) – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat, 27 Maret 2026. Mata uang Garuda tercatat berada di posisi Rp16.979 per dolar AS, mendekati level psikologis Rp17.000.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa pelemahan rupiah pada perdagangan sore ini mencapai 75 poin, setelah sempat tertekan hingga 80 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp16.904 per dolar AS.
“Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh faktor eksternal, khususnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum mereda,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Ia menjelaskan, perkembangan terbaru dari konflik tersebut turut memengaruhi sentimen pasar global. Presiden AS, Donald Trump, sempat menyampaikan adanya kemajuan dalam upaya diplomasi dengan Iran, termasuk rencana penghentian sementara serangan terhadap fasilitas energi selama 10 hari. Namun di sisi lain, langkah militer AS yang mengirim tambahan pasukan ke kawasan Timur Tengah justru meningkatkan ketidakpastian.
Situasi ini diperparah dengan ancaman terhadap jalur distribusi energi global. Ketegangan di kawasan tersebut berdampak pada terganggunya pasokan minyak dunia, bahkan disebut-sebut mencapai jutaan barel per hari. Kondisi ini mendorong lonjakan harga energi dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Badan energi internasional bahkan menilai krisis ini berpotensi lebih besar dibandingkan gejolak energi pada dekade 1970-an. Kenaikan harga minyak secara langsung memicu biaya produksi industri dan berdampak pada harga barang di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dari sisi kebijakan moneter global, pelaku pasar kini mulai mengubah ekspektasi terhadap langkah bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed). Jika sebelumnya pasar memperkirakan adanya pelonggaran suku bunga, kini justru muncul prediksi arah kebijakan yang lebih ketat akibat tekanan inflasi yang meningkat.
“Kondisi suku bunga tinggi di AS membuat dolar semakin kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” tambah Ibrahim.

Sementara itu, faktor domestik juga turut memberikan pengaruh terhadap pergerakan rupiah. Momentum Hari Raya Idulfitri 2026 yang biasanya mendorong konsumsi masyarakat, kali ini dinilai tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya.
Meski aktivitas ekonomi tetap meningkat selama periode Ramadan dan Lebaran, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026 diperkirakan hanya mencapai sekitar 5,4 persen, sedikit di bawah target pemerintah sebesar 5,5 persen.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tingkat inflasi yang relatif tinggi sehingga menahan daya beli masyarakat. Walaupun pemerintah telah menggelontorkan berbagai stimulus seperti bantuan sosial dan belanja negara yang ekspansif, dampaknya dinilai belum maksimal dalam mendongkrak konsumsi.
Di sisi lain, analis perbankan Rully Nova menilai tekanan terhadap rupiah juga berasal dari volatilitas harga minyak dunia serta ketidakpastian berakhirnya konflik di Timur Tengah.
“Pasar masih mencermati perkembangan harga minyak yang fluktuatif serta risiko inflasi domestik yang berpotensi meningkat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kekhawatiran juga muncul terkait potensi pelebaran defisit anggaran yang bisa mendekati batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), terutama jika harga energi terus meningkat.
Untuk menjaga stabilitas ekonomi, pemerintah diharapkan dapat memperkuat daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan, seperti bantuan tunai, subsidi energi, serta efisiensi belanja di sektor kementerian dan lembaga.
Dengan kombinasi tekanan global dan domestik tersebut, pergerakan rupiah dalam waktu dekat diperkirakan masih akan berada dalam tekanan, seiring tingginya ketidakpastian ekonomi dunia.













