Lampung17.comPesawaran

Lebih dari 50 Tahun Bertahan, SDS Pujoraharjo Tetap Menyalakan Harapan Pendidikan di Puncak Gunung Pesawaran

×

Lebih dari 50 Tahun Bertahan, SDS Pujoraharjo Tetap Menyalakan Harapan Pendidikan di Puncak Gunung Pesawaran

Sebarkan artikel ini

PESAWARAN, LAMPUNG17.COM (SMSI) – Di balik perbukitan Gunung Bundar, Dusun Pujoraharjo, Desa Banjaran, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, berdiri sebuah sekolah dasar swasta yang telah menjadi tempat belajar anak-anak selama lebih dari lima dekade. Meski bangunannya masih sederhana, tanpa aliran listrik dan hanya memiliki sedikit siswa, SDS Pujoraharjo tetap bertahan memberikan layanan pendidikan bagi masyarakat di wilayah terpencil.

Sekolah yang berdiri sejak era 1970-an itu hingga kini masih menggunakan bangunan berdinding papan kayu. Sebagian atap berbahan asbes telah rapuh dan bocor akibat dimakan usia. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi guru maupun siswa yang setiap hari melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Saat ini SDS Pujoraharjo hanya memiliki 10 siswa dengan empat orang tenaga pendidik. Jumlah tersebut jauh berkurang dibandingkan beberapa puluh tahun lalu ketika sekolah ini masih menjadi tempat belajar ratusan anak dari sejumlah dusun di kawasan Gunung Bundar.

Meski fasilitas terbatas, proses pembelajaran tetap berjalan mengikuti kurikulum nasional. Kegiatan belajar masih dilakukan secara sederhana karena belum tersedianya jaringan listrik dari PLN. Kebutuhan listrik hanya dipenuhi melalui panel surya dan turbin air, sementara akses internet di kawasan tersebut juga masih sangat terbatas.

Salah seorang guru, Uswatun Hasanah, yang telah mengajar sejak tahun 2004, mengaku memilih tetap mengabdi meski hanya menerima honor sekitar Rp300 ribu setiap bulan.

“Kami bertahan karena ingin anak-anak di sini tetap bisa mendapatkan pendidikan. Walaupun fasilitas masih sangat terbatas, semangat kami tidak pernah berkurang untuk terus mengajar,” ujar Uswatun Hasanah.

Di tengah keterbatasan akses, sekolah tersebut juga telah menerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis. Namun, karena lokasi sekolah berada di puncak gunung, proses distribusi makanan dilakukan secara bergantian oleh para orang tua siswa yang mengambil makanan di lereng gunung sebelum membawanya ke sekolah.

Guru SDS Pujoraharjo, Naim Jauhari, berharap perhatian terhadap sekolah-sekolah di daerah terpencil terus ditingkatkan, terutama dalam pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan.

“Kami berharap ada dukungan untuk memperbaiki fasilitas sekolah sehingga anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman. Mereka memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak,” kata Naim.

Selama lebih dari 50 tahun berdiri, SDS Pujoraharjo menjadi simbol semangat pendidikan di daerah terpencil. Di tengah bangunan kayu yang mulai lapuk, atap yang bocor, serta keterbatasan fasilitas, para guru dan siswa terus membuktikan bahwa tekad untuk belajar dan mengajar mampu bertahan melewati berbagai tantangan demi masa depan yang lebih baik. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *