BANDAR LAMPUNG, LAMPUNG17.COM (SMSI) — Meningkatnya aksi tawuran remaja di Kota Bandar Lampung menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Lampung. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah bentrokan antarkelompok remaja terjadi di berbagai titik dan memicu keresahan masyarakat. Tawuran yang berlangsung hingga malam dan dini hari itu bahkan disebut melibatkan senjata tajam hingga menyebabkan korban jiwa.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung mulai memetakan sekolah-sekolah yang dinilai memiliki potensi peserta didik terlibat aksi tawuran maupun pelanggaran ketertiban lainnya. Langkah ini dilakukan sebagai upaya pencegahan agar aksi kekerasan antarremaja tidak terus meluas.
Kepala Disdikbud Provinsi Lampung, Thomas Amirico, mengatakan pihaknya kini melakukan pengawasan lebih intensif terhadap sekolah-sekolah yang dianggap rawan. Menurutnya, pemetaan dilakukan untuk mengantisipasi peserta didik yang berpotensi melakukan kegiatan di luar ketentuan hingga memicu kegaduhan dan tawuran.
“Kami tidak ingin menunggu lebih banyak korban jatuh sebelum mengambil langkah serius. Karena itu Disdikbud Lampung mulai melakukan pemetaan sekolah rawan tawuran, memperkuat pengawasan bersama pihak sekolah, serta membentuk Satgas Anti Tawuran dan Narkoba di lingkungan sekolah,” ujar Thomas Amirico.
Ia menjelaskan, Disdikbud Lampung saat ini juga telah aktif berkoordinasi dengan seluruh SMA dan SMK di Lampung, termasuk para kepala sekolah, guna memperkuat pembinaan terhadap para pelajar. Selain itu, dalam waktu dekat pihaknya juga akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk melakukan langkah antisipasi agar tawuran pelajar tidak kembali terjadi.
Sebagai langkah preventif, Disdikbud Lampung telah membentuk Satgas Anti Tawuran dan Narkoba yang melibatkan pengurus OSIS sebagai bagian dari pengawasan internal antarsiswa. Pemerintah berharap seluruh pihak mulai dari sekolah, orang tua, hingga aparat keamanan dapat bersinergi untuk mencegah aksi tawuran di kalangan remaja.
Dengan pengawasan yang lebih ketat dan pembinaan berkelanjutan, para pelajar diharapkan dapat lebih fokus pada pendidikan dan menjauhi tindakan kekerasan yang merugikan banyak pihak. (Red)













