Lampung SelatanLampung17.com

Tiga Kali Erupsi Anak Krakatau, CCTV Tertutup Abu Vulkanik

×

Tiga Kali Erupsi Anak Krakatau, CCTV Tertutup Abu Vulkanik

Sebarkan artikel ini

LAMPUNG SELATAN, LAMPUNG17.COM (SMSI) – Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengalami tiga kali erupsi pada Senin (19/10/2026) pagi. Ketiga letusan tersebut tidak teramati secara visual karena kamera pemantau atau CCTV tertutup abu vulkanik.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, membenarkan terjadinya tiga kali erupsi tersebut.

“Iya, tiga kali erupsi. CCTV-nya penuh dengan abu vulkanik,” kata Suwarno saat dikonfirmasi, Senin (19/10/2026).

Berdasarkan laporan MAGMA Indonesia, erupsi terjadi pada pukul 09.31 WIB, 09.33 WIB, dan 09.40 WIB. Meski tinggi kolom letusan tidak teramati secara visual, seluruh kejadian tersebut terekam melalui instrumen seismograf.

Erupsi pertama pada pukul 09.31 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 50 milimeter dengan durasi sekitar 51 detik. Dua menit kemudian, erupsi kembali terjadi dengan amplitudo maksimum 53 milimeter dan durasi sekitar empat menit.

Sementara itu, erupsi ketiga pada pukul 09.40 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 55 milimeter dengan durasi sekitar enam menit 32 detik. Ketiga kejadian tersebut dilaporkan masih berlangsung ketika informasi masing-masing erupsi diterbitkan.

Suwarno menjelaskan, kendala pada CCTV tidak berarti aktivitas erupsi luput dari pemantauan petugas. Aktivitas gunung api tersebut tetap dapat diketahui melalui rekaman seismograf.

“Erupsinya terekam melalui seismograf, tetapi secara visual tidak teramati karena CCTV tertutup abu vulkanik,” ujarnya.

Terkait kondisi kamera pemantau, Suwarno mengatakan pembersihan atau perbaikan akan dilakukan setelah aktivitas erupsi mereda dengan tetap mempertimbangkan keselamatan petugas.

“Kalau sudah reda erupsinya, pasti diperbaiki ke sana,” kata Suwarno.

Selain tiga kali erupsi, laporan pengamatan MAGMA Indonesia pada periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB juga mencatat sejumlah aktivitas kegempaan lainnya. Tercatat 24 gempa Hybrid atau Fase Banyak, 16 gempa Vulkanik Dangkal, tujuh gempa Vulkanik Dalam, lima gempa Hembusan, tiga gempa Low Frequency, dan satu gempa Tektonik Jauh.

Laporan tersebut turut mencatat tremor menerus dengan amplitudo 1–14 milimeter dan amplitudo dominan 5 milimeter. Adapun pengamatan visual secara umum menunjukkan asap kawah berwarna putih, kelabu, dan hitam dengan intensitas sedang hingga tebal, dengan ketinggian sekitar 50–600 meter di atas puncak.

Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III atau Siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan masyarakat, wisatawan, pengunjung, dan pendaki tidak memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.

Masyarakat juga diminta menghindari area dalam radius satu kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Anak Krakatau. Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder akibat kontak lava panas dengan air laut maupun air hujan.

Suwarno mengimbau masyarakat dan wisatawan agar tetap mematuhi rekomendasi keselamatan serta tidak mendekati kawasan berbahaya meskipun letusan tidak terlihat melalui CCTV.

Masyarakat di wilayah pesisir Lampung dan Banten juga diimbau tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang menyebut erupsi Anak Krakatau secara otomatis akan menyebabkan tsunami. Warga diminta mengikuti arahan BPBD setempat dan memantau perkembangan aktivitas gunung melalui saluran informasi resmi pemerintah. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *