Dana BOS Bisa Digunakan Untuk Siswa Beli Kuota Belajar Online

BANDARLAMPUNG, LAMPUNG17.COM – Pasca diputuskannya perpanjangan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara online/dirumah seluruh sekolah di Bandarlampung, hingga 31 Oktober mendatang. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung melalui Dinas Pendidikan Kota Bandarlampung mengizinkan sekolah untuk menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk digunakan membeli kuota pada proses belajar online.

Hal tersebut diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandarlampung, yang juga Assisten I Bandarlampung, Sukarma Wijaya, pada Selasa (25/8) dilingkungan Pemkot Bandarlampung.

Menurut dia, tidak sedikit orang yang merasa sulit menyediakan kebutuhan kuota internet dalam proses kegiatan secara daring, bahkan ada orangtua yang mengeluhkan tidak adanya ponsel yang memiliki. fungsi Videocall.

“Sebenarnya kembali kepada kebijakan sekolah, kalau dimungkinkan melalui dana BOS ada pembagian kuota itu. Memang itu dibolehkan, silahkan. Namun harus dikonsultasikan bersama guru dan kepala sekolah,” jelas Sukarma.

Pengunaan dana BOS, sambung dia, merupakan kebijakan yang diambil untuk merespons situasi pandemi Covid-19 saat ini. “Namun kadang ada sekolah juga tidak mencukupi, bagaimana bisa memberikan kuota, bayar guru honor kami saja kami nggak cukup,” ungkapnya.

Dia membeberkan, ada dua permasalahan yang kerap menjadi keluhan. Pertama, orangtua dari kalangan belum mampu yang berat membiayai kebutuhan sekolah selama daring. Kedua, dengan tidak masuk nya anak ke sekolah, memanfaatkan belajar kelompok untuk sekedar bermain-main.

“Tapi yang lebih banyak menjadi persoalan masalah daring juga ini kuota yg selalu ditanyakan kepada kami darimana. Artinya kita harus sama-sama cari solusi, kita kembalikan kepada bapak Walikota dalam hal penanguhan KBM secara tatap muka,” paparnya.

Saat diwawancari, Nur (35) Warga Kampung Sawah mengatakan bahwa dirinya tetap mematuhi peraturan pemerintah dalam hal pencegahan Covid-19 di Kota Bandar Lampung. Namun dalam hal KBM secara daring dirinya mengeluhkan tidak adanya telepon gengam yang berfungsi untuk KBM virtual. “Anak saya sudah lama nggak sekolah, belajarnya daring. Ini bagus untuk pecegahan virus, tapi kesulitannya karena saya kan nggak punya Hp nya jadi suka nebeng sama temen atau saudara,” kata Nur.

Meski sudah mendapat pinjaman alat untuk daring, Nur mengaku berkewajiban untuk membeli atau menganti kuota. “Nebeng sama orang, kadang saya beli kuota¬† orang itu Rp10 ribu, kadang delapan ribu. Tapi penghasilan bapak nya jadi kuli di pasar tugu aja sehari cuma Rp30 ribu,” tutur dia.(enj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *